Wednesday, 22 May 2019

Pengalaman Mudik Paling Berkesan



Tanpa terasa Ramadhan sudah memasuki hari ke-18 pertanda lebaran tak lama lagi akan tiba. Jika hari kemenangan sudah semakin dekat, sejak kecil aku paling menanti-nantikan malam takbiran di kampung halaman orang tuaku. Selain niat merayakan hari lebaran dan bermaaf-maafan, mudik juga sangat ampuh untuk mengobati rasa kangen dengan suasana kampung halaman.

Papaku yang berasal dari Purworejo sedangkan mamaku dari Klaten membuat mudik sebisa mungkin dilakukan setiap tahunnya agar kami dapat merayakan hari lebaran bersama keluarga di kampung halaman mereka. Kami lebih sering mudik dari Jakarta ke daerah Jawa Tengah dengan mengendarai mobil pribadi, baik itu dilakukan hanya oleh keluarga inti saja maupun bersama seluruh keluarga besar secara konvoi, yakni rombongan mobil keluarga masing-masing yang berjalan saling beriringan.

Ngomongin masalah  mudik, aku ada nih pengalaman mudik yang paling berkesan yakni lebaran tahun 2011. Alasannya karena mudik kala itu walaupun masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya yang kebanyakan menggunakan kendaraan pribadi, tapi juga merupakan mudik pertamaku tidak hanya sebagai penumpang melainkan harus rela menggantikan papaku menyetir.


Kemacetan Membuatku Terlatih dan Terampil Menyetir

Mudik ke daerah Jawa Tengah dengan berkendara sebenarnya bukan sekali atau dua kali saja dilakukan oleh keluarga besarku. Lebaran tahun 2011, aku yang telah lulus kuliah dan kebetulan telah memiliki sim A untuk pertama kalinya turut berpartisipasi menyetir secara bergantian ke kampung halaman. Saat itu, kebetulan yang mudik dari Jakarta tidak dilakukan secara konvoi seluruh keluarga besar melainkan hanya keluarga inti saja seperti papa, mama, aku dan adikku dikarenakan tidak dapat mencocokkan hari keberangkatan satu sama lainnya dan ada pula beberapa keluarga yang memutuskan naik kereta api. Sedangkan kakakku dan suaminya akan menyusul dengan kendaraan mereka karena tinggal di daerah Bandung.

Aku dan keluargaku mudik sekitar 2 hari sebelum malam takbiran, jadi sudah dapat dipastikan jika arus kemacetan yang diprediksikan akan sangat dasyat menjelang hari lebaran. Awalnya, aku agak cemas karena perjalanan ini adalah jalur terpanjangku dalam menyetir mobil ke luar dari Jakarta. Namun, papaku meminta tolong dan mempercayakanku untuk menggantikannya agar perjalanan tetap dapat dilakukan tanpa perlu singgah menginap ke tempat peristirahatan. Alhasil, saat itulah aku paham jika mudik sebagai pengendara dibutuhkan stamina yang cukup kuat serta ketajaman mata karena jalanan pedesaan rata-rata masih kurang penerangan, ditambah lagi padatnya kendaraan, dan sempitnya jalan-jalan setelah keluar dari jalan tol.

Setelah segala persiapan mudik seperti koper perlengkapan menginap, makanan, minuman, obat-obatan dan sebagainya telah rapi, kami memutuskan berangkat setelah subuh melalui jalur utara karena ingin bermalam takbiran di Klaten terlebih dahulu baru pulangnya melalui jalur selatan sekalian bisa singgah ke kampung halaman papaku di Purworejo. Diawali dengan papa yang menyetir karena kondisi dari rumah masih segar sebelum harus mulai perang melawan kemacetan saat mudik. Walaupun papa usianya sudah 50-an tahun, tapi beliau hingga saat ini tetap aktif menyetir walaupun matanya telah rabun jauh. Makanya aku memutuskan menggantikannya menyetir lebih banyak di malam hari, apalagi syukurnya kondisi mataku normal sehingga kurasa penglihatanku di saat gelap akan jauh lebih baik.

Setelah melewati Karawang dan Purwakarta, jalanan terlihat semakin padat bahkan barisan mobil yang terdiam beberapa lama bisa panjang sekali di jalan-jalan utama. Kami memutuskan untuk tidak perlu berpuasa saat mudik demi perjalanan yang berkualitas, tidak dehidrasi saat harus berlama-lama di dalam mobil bermacet-macetan pada siang hari, lebih aman karena dijauhkan dari serangan pusing atau mual, dan sebagainya. Tentu saja nantinya kami wajib mengganti puasa yang batal tersebut selama mudik.

Oiya, dalam perjalanan ketika masuk rest area, antriannya membuatku geleng-geleng kepala, apalagi antrian ke toilet umum sudah dipastikan sangat membludak sehingga diharapkan bagi yang ingin  mudik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan sewa agar setiap sekitar 2 jam sekali diupayakan mampir ke tempat-tempat istirahat sekedar untuk ke toilet atau membeli makanan atau minuman. Terjebak dalam kemacetan merupakan hal yang wajar saat mudik, makanya sebisa mungkin beristirahatlah yang cukup secara bergantian sambil menikmati momen macet selama mudik yang hanya dapat dinikmati setahun sekali.

Setiap beberapa jam berselang dan bergantian menyetir, biasanya durasi waktu hingga tujuan akhir tanpa harus menginap bisa sekitar 15-24 jam tergantung dengan kondisi kemacetannya dan berapa banyak kamu berhenti singgah beristirahat atau sekedar makan, minum, atau belanja. Mungkin karena sudah terbiasa begadang dan aku juga sangat menikmati mudik setiap tahunnya dengan mengendarai mobil, jadi tak kurasakan kesulitan malahan cukup senang karena aku jadi memiliki pengalaman menyetir ke daerah-daerah menuju kampung halaman orang tua. Aku jadi tambah percaya diri dalam menyetir bahkan saudara-saudaraku juga turut memujiku karena pertama kalinya aku berani mengendarai mobil di jalanan yang curam penuh tikungan, sempit, dan padat mobil orang-orang yang sama-sama tidak sabaran ingin cepat-cepat sampai ke tujuan akhir.

Sibuk Berburu Oleh-oleh 
Selepasnya dari Indramayu menuju Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Salatiga, Magelang hingga tujuan akhir di Klaten, disitulah papa dan aku mulai teratur bergantian dalam menyetir. Bergantian istirahat membuat rasa kantuk cukup teratasi namun rasa pegal di bagian kaki adalah yang paling menonjol karena mobil yang kami kendarai bukan mobil matic yang seharusnya lebih nyaman jika macet. Tak hanya itu, mata juga turut terasa kurang nyaman karena harus selalu fokus demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di jalan.

Berhubung sudah memasuki daerah-daerah yang jauh dari ibukota, kesukaanku adalah lebih mengenali logat bahasa, makanan atau barang-barang dari daerahnya masing-masing. Contohnya saat di Brebes kami selalu menyempatkan belanja telur asin. Aku senang dengan suasana baru karena Brebes dan Tegal rata-rata logat bahasa ngapak atau memiliki ciri khas yang agak keras tidak sehalus daerah mamaku di Klaten mendekati Solo sehingga kudengar cukup seru dan unik. Selanjutnya tak lupa berburu batik khas Pekalongan, atau jika masih sempat agar dapat mengunjungi kuliner-kuliner lainnya yang terkenal di daerah masing-masing.

Demi memiliki pengalaman mudik yang menyenangkan dan melupakan penatnya kemacetan, kami selalu menyempatkan berhenti di setiap toko-toko tertentu sekedar untuk melihat-lihat atau langsung membeli oleh-oleh khas daerahnya. Itulah mengapa aku sangat menyukai mudik karena bisa sekaligus berbelanja barang-barang unik dan seru juga melihat suasana baru yang lain dan jauh dari kesan perkotaan.

Suasana Malam Takbiran di Kampung Halaman Orang Tua
Beruntung sekali selama ini mudik menggunakan kendaraan pribadi selalu sempat menikmati malam takbiran di rumah eyang di Klaten. Kala itu keluarga besar rata-rata pasti berkumpul apalagi usia eyang yang sudah sangat sepuh sebelum akhirnya sekarang telah almarhum.

Biasanya kegiatan mudik dijadikan ajang silahturahmi karena anak-anak dan cucu-cucu eyang yang tinggalnya sudah berpencar ke kota-kota di pulau Jawa maupun luar pulau Jawa. Kebanyakan saat malam takbiran, keluarga besar akan berkumpul bersama saling meminta doa restu agar pekerjaan dan kehidupan di perantauan berlangsung baik dan lancar, begitu pula denganku. 

Nah, setelah lebaran hari ke-2, kami keluarga inti langsung pamit melanjutkan mudik selanjutnya melalui jalur selatan karena harus singgah ke kampung papa di Purworejo. Kisah mudik melalui jalur utara maupun selatan untuk memaksimalkan libur lebaran serta menikmati singgah ke beberapa daerah menuju kampung halaman orang tua adalah pengalaman seruku selama mudik.

Oiya, terakhir kali aku mudik mengunjungi rumah eyang adalah setelah aku menikah. Sejak memiliki anak bahkan hingga sekarang usianya beranjak 4 tahun, aku beserta suami dan anak belum pernah memiliki kesempatan mudik bersama dengan berkendaraan pribadi maupun dengan transportasi umum lainnya. Jika mudik dengan membawa anak, kira-kira bakal ada kisah seru lainnya tidak ya ?. Semoga next time aku diberikan kesempatan itu dan bisa menceritakan kisah mudik selanjutnya bersama suami dan anak. 

Begitulah kira-kira pengalaman mudik pada tahun 2011 yang menurutku paling berkesan dan tentu akan selalu kurindukan karena masih berstatus single dan belum memiliki suami dan anak seperti sekarang. Lalu, cerita mudikmu bagaimana ?.




2 comments:

  1. yang terpenting adalah selalu berhati-hati dan sabar dijalan saat mudik..

    ReplyDelete

Peralatan Tempur Wajib Dibawa Saat "New Normal" Akibat Corona

Corona atau covid-19 yang sudah dinyatakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi telah membuat perubahan drastis terutama d...