Thursday, 1 March 2018

Suka Duka Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus

Terpilih ? 

Ya, satu kata itu yang biasa aku dengar jika orang sekitarku mengetahui bahwa anakku tidak seperti anak-anak lainnya dalam hal tumbuh kembang. Anakku Global Delay Development (GDD), dengan beberapa diagnosa yang menyertainya.

Di postingan aku sebelumnya, aku pernah menceritakan bagaimana aku bisa memperoleh predikat special needs mom. Responku pun beragam sejak saat itu, mulai dari menolak untuk percaya, merasa mustahil karena aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga, mengkonsumsi makanan sehat juga rajin minum vitamin selagi hamil, jalanin tes TORCH, menjaga lingkungan agar tetap higienis, saat proses kelahiran selesai pun aku tetap merasa mungkinkah ada kesalahan diagnosa, tidak mungkin vinza GDD, yang paling banyak aku rasakan bahkan rasa menyesal bahwa aku melahirkannya secara normal, kenapa tidak cari cara aman dengan bedah sesar saja. Begitu terus pikiranku selama ini. 

Namun semakin ke sini, aku semakin mantap menjalankan kehidupan dengan iklas, mulai menerima keadaan anak, mulai memberikan perhatian ke dirinya dan belajar bagaimana agar aku bisa melalui semua ini menjalankan segala proses yang seharusnya anakku lakukan agar dia bisa mengejar ketinggalannya, bisa hidup minimal mandiri kelak.

Walaupun aku adalah satu-satunya keluarga kecil yang diberi 'tantangan' ini oleh Allah di dalam keluarga besarku baik pihak aku maupun pihak suami, ya rasa khawatir tentu ada. Alhamdulillah seluruh keluarga besar mendukung sekali bahwa aku mampu, aku kuat, pasti bisa mengatasi masalah anak. Semuanya menyayangi anakku tidak kurang seperti anak lainnya. Mungkin yang dibilang "Kamu terpilih sama Allah karena Allah sayang sama kamu?", baru bisa aku terima saat-saat ini setelah serentetat kejadian yang berubah drastis dalam hidupku. 

Ya, ternyata pasti ada. Anakku telah merubahku. Dulu aku egois teramat sangat. Apapun yang aku inginkan, obsesiku, cepat atau lambat harus bisa aku capai tanpa peduli bagaimana keadaan sekitarku, cuekku sungguh maksimal. Sekarang sudah berbeda, aku secara perlahan mulai memikirkan orang lain. Aku merasa ada banyak orang yang mengalami hal yang serupa bahkan lebih sulit dari kondisiku yang perlu aku perhatikan. Aku mulai banyak meminta nasehat juga belajar dari orang-orang yang sebelumnya tidak pernah aku rasa akan aku butuhkan uluran tangan. 

Terlebih lagi, misal aku tidak dianugerahi anak yang special needs, mungkin usia pernikahanku sebentar saja karena ada banyak kejadian yang membuatku harus menyerah saja. Aku dan suamiku sungguh berbeda, bahkan tidak sedikit yang menanyakanku "Kenapa kamu bisa sama dia?", bahkan setelah menikah pertanyaan tersebut baru kurasa benar. Ya, "Kenapa aku memilihnya?", pikirku setiap ada masalah menghadang. Tapi, kami bisa berjuang sampai hampir 5 tahun usia pernikahan, walau masih banyak debu dan krikil tajam yang perlu dibenahi. Aku rasa hal itu wajar karena tidak ada kehidupan yang sempurna.

Aku mulai belajar lagi, bahwa tidak semua yang aku harapkan bisa tercapai. Allah Yang Maha Berkehendak. Seberapa besar usahaku untuk kehidupanku, jika Allah menyatakan 'TIDAK', maka aku harus tahu bahwa aku makhluk yang dibuat dari gumpalan kecil berkat anugerah yang diberikan olehNya. Tidak memiliki kemampuan lain selain berserah diri padaNya. Aku sempet memiliki perasaan, Allah tidak sayang padaku karena memberikan kesulitan dalam hidup, tapi in the end, perasaan itu sirna dah yakin kasih Allah padaku adalah besar, berkatNya sungguh berarti yang menjadikan aku manusia yang banyak bertawakal dan banyak bersyukur.
Jika aku utarakan duka memiliki anak berkebutuhan khusus, sebenarnya ga sedikit. Selain aku sempet resign dari perusahaan yang jadi idaman selama ini demi merawat si buah hati, tenaga serta biaya yang perlu dikeluarkan untuk anakku ternyata melebihi dari kapasitas anak pada umumnya, dan masih ada lagi yang tidak mungkin aku jelaskan satu per satu. Namun, jika aku utarakan suka memiliki anak kebutuhan khusus, ternyata Karunia Allah dari diri anakku membuatkan lebih banyak berarti dan tidak ngoyo. Tergantung pribadi kita mau banyakan menghitung jumlah dukanya atau sukanya.

Tidak ada orang tua yang tidak bahagia jika telah dikaruniai seorang anak, bagaimanapun bentuknya, sikapnya, sifatnya, kelebihannya, maupun kekurangannya. Semua orang pasti tidak akan bahagia jika yang diingat  hanya masa sulitnya saja. Akan tetapi, jika kamu memilih untuk tegar, tetap kuat, dan yakin bahwa pasti Allah memiliki maksud baik dalam setiap langkah yang harus kamu tempuh, maka sungguh janganlah ada keraguan dalam hatimu. 

Ada seorang teman yang mendukung dan selalu mendoakan yang terbaik untukku dan keluargaku pada suatu hari memberikan link ini : http://www.ummi-online.com/2-alasan-mengapa-memiliki-anak-berkebutuhan-khusus-adalah-keberuntungan.html  , In Shaa Allah ,  Bismillah , kami sekeluarga mohon doa yang terbaiknya ya, semoga menjadi manusia yang berguna dan mampu menjadi teladan. Aamiiin. Dibantu dengan saling mengingatkan ke arah yang benar, ya :)



No comments:

Post a comment

Peralatan Tempur Wajib Dibawa Saat "New Normal" Akibat Corona

Corona atau covid-19 yang sudah dinyatakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi telah membuat perubahan drastis terutama d...