Thursday, 1 August 2019

Cerpen - Pujaanku, Imajinasiku


“Heeeei, fajar telah tiba, nih. Ayo berkumpul ke tengah desa melihat smurf-smurf lainnya”

“Smuuuuurf.....smuuuuurf......, coba cari papa smurf untuk menyiapkan hidangan smurf untuk sarapan hari ini”

###

Penggalan beberapa kalimat pada komik yang berjudul “Kepala Smurf dan Smurf Keras Kepala” mendadak harus terhenti kubaca.

“Saniaaaaa, ayo cepet kita berangkaaaat”, teriak Ika.

“Iyaaaa”, kujawab seketika sambil beranjak ke luar dari taman bacaan ini.

Namaku Sania, berasal dari Jakarta yang saat ini sedang merantau di Yogyakarta bersama Ika, teman masa kecilku. Saat ini kami sama-sama kuliah semester dua di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Walaupun berbeda jurusan, kami sama-sama belajar di fakultas yang sama yaitu Fakultas Ilmu Budaya.

“Kamu baca komik lagi?”

“Emmm, begitulah...”

“Mau sampai kapan kamu terus-terusan asik baca komik? Seharusnya kamu sudah mulai sibuk pacaran daripada malam minggu hanya di kamar kos sendirian”

“Iya..iyaaa.., bawel deh, mentang-mentang kamu sudah punya pacar”, sahutku agak kesal.

Aku berbeda dengan Ika yang sejak kecil terkenal sangat pintar, riang, dan cantik. Aku seorang gadis biasa yang cenderung tertutup sampai-sampai sering merasa malu jika harus bertatapan wajah dengan lawan jenis. Sama halnya dengan kejadian hari ini dan beberapa bulan lalu, sebenarnya aku sering ke taman bacaan dekat kampus bukan sekedar untuk membaca komik kesukaanku, Smurf, suku fiktif berwarna biru yang dikisahkan hidup di sebuah hutan di Eropa, melainkan karena ada seseorang yang selalu menarik minat mataku untuk melihatnya.

Lelaki bertubuh kurus yang suka mengenakan kemeja longgar dan celana panjang berbahan jeans. Sering pula kulihat ia lengkap mengenakan kacamata dengan lensa yang sedikit mengkilap karena mungkin selalu dilap dengan pembersih khususnya. Aku melihatnya pertama kali di taman bacaan ini yang kutemukan tanpa sengaja di perjalanan menuju kos sepulang kuliah pada semester awal. Aslinya aku mendatangi taman bacaan itu karena tertarik dengan bangunannya yang berwarna biru cerah yang lantas kuberi nama “Taman Bacaan Biru”. Sampai akhirnya ia pun datang dan langsung membuat hatiku bergejolak seperti ada kupu-kupu terbang menggelitik di dalam tubuhku.

Aku hanya berani memandangnya dari sudut ruangan taman bacaan. Kupikir ia pasti sangat suka membaca buku dan memang tinggal di sekitar sini. Setiap kali aku mendatangi tempat ini, pasti kulihat juga dirinya datang sekitar 10 sampai 15 menit setelah aku mulai membaca buku pilihanku yang rata-rata adalah komik. Seandainya saja dia Saint Seiya, seorang kesatria di salah satu komik Jepang yang pernah kubaca, aku ingin sekali menjadi Saori Kido, reinkarnasi Dewi Athena yang harus selalu dilindunginya. Begitu pikirku hampir setiap hari ketika melihat sosoknya yang tinggi dan ramping.

###

Beberapa hari ini aku tidak melihatnya di taman bacaan ini. Aku menunggu sampai dua atau tiga judul komik selesai kubaca. Aku menunggu sampai Ika terus memanggilku dari luar taman bacaan untuk berangkat bersama ke kampus. Bahkan satu atau dua kalinya, aku dan Ika sampai harus terlambat masuk kelas. Tentu saja Ika mengomeliku dengan ketus. Aku hanya bisa diam, menyesal tanpa berkomentar.

“Dia kemana, ya?”

“Apa sedang sakit?”

“Ataukah pergi ke taman bacaan lainnya?”

Begitu pikirku penasaran dalam hatiku yang suram setiap kali tak melihatnya datang ke taman bacaan hingga hari ini, hari minggu. Genap sepuluh hari aku kesepian membaca komik tanpa ditemani sesosok pria yang membaca buku dari kejauhan sudut ruangan. Aku merasa putus asa.

Keesokan harinya, akhirnya aku tidak mendatangi taman bacaan biru. Aku dan Ika langsung berangkat ke kampus dari kos kami yang tentu saja membuatnya kebingungan. Ia bertanya mengapa aku tidak menyempatkan diri singgah ke taman bacaan favoritku. Kubilang saja sudah tidak ada komik yang menarik. Aku berbohong. Aku sedih. Aku kesepian.

Seselesainya mengikuti beberapa mata kuliah di hari ini, aku keluar ruang kelas dengan lesu. Kemudian aku mendadak terkejut, mataku terbuka lebar, aku melihatnya. Aku melihat sesosok pria yang selama ini kunantikan di taman bacaan biru kesukaanku. Pria yang sering mengenakan kemeja longgar,  celana panjang jeans, serta kacamata dengan gagang yang pipih namun kokoh, serta lensa yang sangat bening. Bedanya hari ini ia mengenakan tas, topi, dan sepatu yang cukup tren dengan warna yang senada. Dia berjalan ke arahku, tersenyum, dan memanggil Ika dengan suaranya yang terdengar jernih dan lembut.

“Hah?”

“Bagaimana dia bisa kenal dengan Ika?”

“Kenapa dia ada di sini?”

Sungguh pertanyaan-pertanyaan di dalam benak ini terasa memusingkan kepalaku sampai akhirnya aku mengerti alasan pria ini sering terlihat di taman bacaan favoritku. Ternyata dia teman satu kos pacarnya Ika yang memang tinggal di dekat kampus ini. Ternyata dia kenal Ika karena pacarnya sering mengajaknya untuk pergi bersamanya sepulang kuliah. Ternyata dia sering ke taman bacaan itu karena Ika sering menyuruhnya berkenalan denganku tapi dia enggan menggangguku yang terlihat serius membaca komik. Ternyata sejak hari itu dia tertarik mengajakku berkenalan namun tertahan karena takut tak kurespon. Ternyata beberapa hari tak terlihat mendatangi taman bacaan karena memang dia sedang mudik ke Jakarta karena urusan keluarga. Ternyata dia langsung kemari karena tak melihatku di taman bacaan.

Ika sukses membuat mukaku terlihat merona merah delima di bawah langit yang biru. Siapa sangka aku hari ini bisa resmi berkenalan dengan sesosok pria yang selama ini aku nanti-nantikan. Ega namanya yang tentu saja selanjutnya kami akan selalu ke taman bacaan bersama. “Taman Bacaan Biru” yang akan selalu  menjadi kenangan.

Aku tersenyum malu-malu menantikan hari-hariku bersamanya, mendengar ceritanya, mendengar tawanya, bahkan hingga kepulanganku ke Jakarta bersamanya dengan membawa cerita bahagia yang bisa kusampaikan ke orang tuaku. Dialah pujaanku, imajinasiku yang menjadi nyata, cinta pertamaku.

###


Karya ini bertemakan cinta pertama. Aku menulis cerita pendek ini untuk pertama kalinya karena selama ini hanya mencoba menulis berupa artikel. Ide tulisannya muncul begitu saja di sela-sela kegiatanku di rumah hanya demi menuangkan kesenanganku dalam menulis. So, semoga kamu suka ya. 

Terima kasih. 



No comments:

Post a Comment

Kangen Makan Nasi Kucing Tak Harus ke Yogyakarta atau Solo Lagi, Loh!

Sejarah Nasi Kucing Apakah di antara kalian ada yang belum pernah makan nasi kucing? Nasi kucing adalah makanan berupa nasi lauk yang pad...