Tuesday, 2 April 2019

Kemudahan Berbagi dengan Dompet Dhuafa

"Kenapa saya dan suami yang sama-sama sudah bekerja di perkantoran dari pagi hingga larut malam masih tidak sekaya dirinya yang hanyalah seorang penjaga toko?"

"Tetanggaku padahal hanyalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai warung kecil-kecilan, sedangkan pekerjaan suaminya serabutan atau sesekali menjadi supir ojek online. Kenapa mereka bisa membeli barang-barang yang terbilang mahal?"

Begitulah kira-kira contoh pernyataan mengenai misteri perbedaan rezeki dalam kehidupan sehari-hari yang disadari atau tidak akan sering timbul di benak kita. Terkadang kekhawatiran serba kekurangan, merasa rezekinya semakin sempit, tidak memperoleh rezeki yang melimpah seperti orang lain, dan hal-hal semacam tersebut boleh jadi karena Allah mengetahui batas kemampuan seperti jika diberikan rezeki yang melimpah maka kita bisa tidak ingat lagi kepadaNya.

"Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." (QS. Asy Syuura : 27).

Alhamdulillah aku memiliki orang tua juga saudara kandung yang selalu berlomba-lomba dalam hal mencari keberkahan Allah. Mereka selalu menyarankan agar setiap menjalankan suatu pekerjaan atau usaha apapun, jangan pernah lalai menunaikan kewajiban dalam hal ketakwaan dan selalu ingat bahwa kita hidup di dunia ini sifatnya sementara maka janganlah terlalu terpana dengan harta yang tidak bisa dibawa saat ajal telah menjemput. Tetap bersyukur, banyak berbuat kebaikan, dan yang paling sering dilupakan adalah iklas berbagi di segala kondisi.

Rezeki itu apa yang kita nikmati bukanlah apa yang kita miliki, tidak ada artinya memiliki segala-galanya jika tidak merasakan nikmatinya apalagi tidak berbagi kebahagiaan dengan orang banyak. Kalimat itulah yang seringkali kudengar dari ayah dan ibuku. Oleh karena itu, berikut ini aku akan jabarkan beberapa kisah yang aku pelajari dan aku alami dalam hal berbagi dari orang-orang yang tersayang. Alasan dengan seringnya berbagi ternyata terbukti dapat membuka lebih banyak pintu rezeki.

Keutamaan Berbagi
Ayah dan ibuku selalu hidup dalam kesederhanaan. Seberapapun pendapatan mereka sebagai pegawai sipil tidak membuat mereka lupa untuk memberi hasilnya kepada sesama bahkan hingga saat ini di usia mereka yang memasuki masa pensiun. Apapun masalah maupun ujian yang sedang mereka hadapi, tak pernah kudapati mereka mengeluh bahkan tetap bersedia membantu kerabat atau saudara yang mengalami kesulitan baik berupa materi, pikiran, maupun tenaga.

"Kamu kalau setiap berkunjung ke rumah teman atau saudara, jangan pernah lupa belikan sesuatu apalagi sampai perhitungan dalam membelinya.", begitu kata ibuku selalu mengingatkanku agar aku tetap berusaha memberi walaupun sekedanya dan mengetahui kemungkinan mereka tidak membutuhkannya.

"Tuh, ada kakek-kakek jualan kripik. Kamu beli saja beberapa, kasihan gerobaknya masih penuh padahal sudah malam.", begitu lagi kata ibuku setiap sedang di jalan dan melihat ada pedagang kaki lima yang sedang berjualan namun dagangannya terlihat kurang diminati. 

"Ketemu tetangga di jalan jangan lupa disapa, kamu senyum bukan malah buang muka atau cemberut.", begitu kata ayahku sekaligus mengajarkan bahwa tersenyum itu sama halnya dengan berbagi kepada sesama.

Dengan seringnya berbagi dalam hal-hal kecil seperti itulah, syukur alhamdulillah ayah dan ibuku hingga saat ini tidak pernah khawatir kekurangan. Rezeki pun sebenarnya tidak hanya berupa materi. Rezeki nikmat sehat, rezeki yang sudah ditetapkan sesuai seberapa banyak usahamu maka sesuai pula upahmu, rezeki dikelilingi keluarga dan teman-teman yang baik hatinya, rezeki silahturahmi orang-orang terkasih yang tidak pernah terputus, serta yang paling istimewa adalah rezeki yang tidak disangka-sangka bagi orang yang tawakal misalnya saat sedang membutuhkan sesuatu boleh jadi malah mendadak mudah mendapatkannya. Itulah mengapa sebisa mungkin ringan tanganlah menolong ke sesama sehingga Allah akan memudahkan segala urusan yang kita lakukan. Sama halnya seperti ayah dan ibuku yang selalu dikelilingi dengan orang-orang yang mencintainya dan mau membantu mereka ketika sedang susah.

Pelajaran lainnya yang kudapat berasal dari kisahku saat pergi berkendara bersama kakakku. Di setiap kemacetan, aku mendapati kakakku beberapa kali menghentikan kendaraannya untuk membeli barang dagangan anak-anak kecil seperti tisu atau air mineral sekaligus juga mengabaikan uang kembalian.

"Kan kita masih ada tisu, Kak.", tanyaku penasaran.

"Iya, adik yang berjualan tadi kasihan kepanasan, kakak sengaja membelinya supaya dia bisa selesai berjualan dan segera beristirahat.", ungkapnya sembari tersenyum.

"Lalu, air mineralnya untuk siapa sampai beli 3 botol? Uang kembaliannya masih banyak, loh!", aku bertanya lagi karena merasa tidak sedang kehausan dan uang kembaliannya juga masih cukup banyak.

"Air mineralnya boleh buat siapa saja nanti jika ada yang haus. Uang kembaliannya dibagi untuk adiknya saja, mungkin dia lebih membutuhkan", begitu kata kakak dengan rendah hati.

Dari kebiasaan ayah, ibu, serta kakakku itulah yang mengajarkanku untuk jangan pernah takut tidak berkecukupan jika kita iklas berbagi tanpa memikirkan kepentingannya sendiri. Dengan berbagi sungguh tidaklah mengurangi harta kita melainkan jodoh dan rezeki akan selalu dilancarkan, terlebih lagi jika kita tidak pernah menunda-nunda dalam berbagi. 

"Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti seekor burung. Pagi-pagi ia keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." (HR.Achmad dan Turmuzi)

Kiat Mudah Berbagi 
"Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi", ujar kakakku. Ketika itu ucapannya sangat jelas kuingat terlebih lagi saat aku sedang mengalami banyak pengeluaran yang tak terduga seperti membeli obat-obatan untuk anak yang sedang sakit atau harus memperbaiki kendaraan yang sering rusak dan butuh diperbaiki ke bengkel. Aku hanya sibuk dengan hal-hal duniawi dan mengkhawatirkan banyaknya pengeluaran tanpa adanya pemasukan yang lebih. 

Pada saat kesulitanku tersebut, kakakku yang tinggal di beda kota menghubungiku. Setelah kuceritakan segala keluhanku, langsung saja dia menanyakanku seperti ini, "Sudah sedekah belum?, mungkin kamu lupa sedekah jadinya segala urusanmu dipersulit Allah". 

Hanya mendengar kalimat dari kakakku tersebut, sontak aku terkejut dan mengingat kembali bahwa beberapa minggu terakhir adalah benar aku sangat lalai berbagi. Aku terhanyut dengan nikmatnya membeli barang-barang yang sebenarnya jauh dari kebutuhan. Aku melupakan jika saja aku lebih sering berbagi daripada membeli barang-barang yang tidak penting, mungkin saja Allah juga akan mempermudah langkahku bukannya malah membuatku seringkali kehabisan dana demi keperluan yang tidak kuinginkan.

Aku yang semula sering berbelanja dan mencari barang-barang diskon yang hanya menumpuk tak terpakai di rumah, semenjak mendapat teguran dari kakak untuk tidak lupa bersedekah akhirnya langsung memutuskan untuk menyisihkan dana yang tersisa saat itu juga untuk berbagi. Aku menyegerakan bersedekah ke panti asuhan yang memang tidak jauh dari rumah. Pada hari yang sama aku kaget terharu serta dipenuhi rasa syukur karena mengalami balasan yang tidak tanggung-tanggung lebih besar dari apa yang sudah aku sedekahkan. 

Dari pengalaman itulah, sungguh dengan ingat berbagi ternyata tidaklah mengurangi harta maupun rezeki kita melainkan dicukupkan segala kebutuhannya. Aku bahkan mulai mencaritahu adanya beberapa aplikasi sebagai wadah kemudahan dalam berbagi yang salah satunya adalah lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa

Situs resmi Dompet Dhuafa, https://www.dompetdhuafa.org/
Situs maupun aplikasi Dompet Dhuafa sangat mudah dimanfaatkan baik itu orang tua maupun anak-anak. Tagline #JanganTakutBerbagi sekaligus sebagai nasehat untuk orang-orang khususnya sepertiku yang seringkali berpikiran selalu merasa tidak pernah cukup dan merasa dengan berbagi malah membuatmu semakin miskin padahal dengan menunda sedekah malah sebaliknya yakni membuat hati resah, serta rezeki yang semakin sempit.

"Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba' : 39). 

Layanan Dompet Dhuafa sangat banyak pilihannya, seperti bisa melalui donasi online di donasi.dompetdhuafa.org, transfer bank, di counter-counter, care visit, dll. Dengan kemudahan pelayanan untuk berbagi tersebut, diharapkan semua penduduk Indonesia selalu ingat berbagi. Tanamkan tagline #SayaBerbagiSayaBahagia karena yakin bahwa rezeki itu sudah dijamin Allah dan tidak mungkin tertukar satu sama lainnya. Dengan berbagi, manfaat yang dapat kamu terima sangat luas seperti dapat menghapus dosa, mendapatkan naungan di hari akhir, mendapati harta yang berkah, pahala berlipat ganda, dan banyak lainnya.

Yuk, sama-sama raih keberkahan hidup dengan berbagi.





(Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog #JanganTakutBerbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa)

Foto : Koleksi Situs Dompet Dhuafa




2 comments:

  1. Berbagi menjadi lebih mudah, dengan Dompet Dhuafa yang terpercaya serta berpengalaman insyaa Allah berkah san sampai kepada yang membutuhkannya.

    ReplyDelete

Peralatan Tempur Wajib Dibawa Saat "New Normal" Akibat Corona

Corona atau covid-19 yang sudah dinyatakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi telah membuat perubahan drastis terutama d...